Kita lahir di wilayah pertanian. Tapi tak satu mata ajarpun soal tani kita dapatkan. Kita hidup di antara gunung dan lautan. Tapi tak satu kurikulumpun soal maritim kita bahas dan kunyah-kunyah.
Tiap hari kita kedatangan tamu bernama bencana alam. Tapi tak satupun pengetahuan bagaimana melewatinya kita baca. Semua pelajaran kita tak ketemu argumennya sehingga tak akan menolong menjadi warganegara yang tangguh dan unggul.
Pendidikan kita membuat pandangan hidup yang lucu walau berasal dari buku. Bacaan yang tidak dari kehidupan. Ilmu yang tidak terlatih dalam metode. Sebab hanya penuh hafalan, ulangan dan kesimpulan.
Produk pendidikan kita kini hanya dua: begundal sekuler dan begundal agamis. Fundamentalis sekuler sibuk ngemis uang ke "yang lain" sedangkang fundamentalis agamis (ontanis) bersimpuh ngemis uang ke Tuhan.
Keduanya kurang piknik karena begitu miskin sehingga kerjanya saling memfitnah. Lihat saja, kini keduanya sibuk soal "ucapan selamat natal, kopar-kapir, radikal-radikul, intoleran, cungkring dan hitam jidat."
Ternyata, kita semua hanya terlatih sebagai pemakai. Kita kini kurang latihan bebas berkarya. Tak banyak terobosan kita coba ujikan. Pendidikan kita telah memisahkan nasib dan takdir dari kehidupan sesungguhnya. Pendidikan jadi lahan pembodohan dan bisnis ecek-ecek tanpa dentuman.
Budayawan besar WS Rendra (1989) bertanya, "Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalanya." Tentu ini gugatan serius di tengah banyak produk sekolah kita gagal bekerja apalagi mencipta pekerjaan.
Disfungsi bahkan malpraktek ini perlu segera dicari solusinya. Oleh kita semua. Atas beberapa masalah tersebut, kita memandang perlu mengusulkan rasionalisasi kurikulum dengan mengajukan konsep Trimatra (Etika, Logika, Kebangsaan) pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Sehingga kurikulum inti di Indonesia adalah etika-logika-kebangsaan. Sedang mata ajar yang lain hanya instrumental dan penguat kurikulum inti.
Di tangan elite kita yang superkaya (oligarkis) dan nyolongan (predatoris), "akal telah dibunuh, perasaan telah dimatikan, gotong royong telah dipunahkan dan empati telah dimusiumkan." Sebaliknya, di kampus nusantara tradisi kritis, mental perlawanan, praktik koperasi dan jiwa memanusiakan manusia diagungkan serta diluhurkan. Kampus ini menghidupkan dan memenangkan nilai-nilai pancasila.
Jakarta tidak akan jadi seperti New York. Karena Ilmu Teknologi dan Seni di Indonesia sangat rendah. Sangat berbeda dengan Amerika Serikat. Saya perkirakan 5 tahun setelah Ibu Kota Negara pindah. Yaitu tahun 2029 penduduk Jakarta tinggal 5 juta orang. Tahun 2045 penduduk Pulau Jawa tinggal 100 juta orang. Indonesia masih bangsa terbelakang. Kalau di analogikan dengan Kereta Api. Indonesia hanya punya 1 lokomotif. Yaitu politik. Kemana kekuasaan politik pergi kesana ekonomi sosial dan budaya pergi. Dan itu artinya. Segala sesuatu di Indonesia ditentukan oleh kekuadaan politik. Yang lain cuma sekedar numpang hidup.
Memajukan Ilmu, Teknologi, Seni dan Industri.
Kemampuan Ilmu dan Teknologi kita rendah; dan lebih buruk lagi, kemauan kita untuk menguasai Ilmu dan Teknologi juga sangat lemah; dan oleh karena itu kita sangat tergantung kepada hasil industri negara lain. Kita harus kerja keras dan kreatif, menyerap teknologi dari berbagai negara maju, dan kemudian menerapkan dan mengembangkannya di Indonesia. Revolusi Ilmiah dan Revolusi Industri akan kita jalankan untuk memajukan ilmu, teknologi, seni dan industri. Ilmu, teknologi, seni dan industri, harus dimajukan bersama; dan oleh karena itu harus digerakkan bersama-sama. Kemajuan Ilmu, Teknologi dan Seni harus memajukan Industri; dan sebaliknya kemajuan Industri harus segera memajukan Ilmu, Teknologi dan Seni. Artinya, keuntungan yang didapat karena kemajuan Industri, sebagian harus segera digunakan untuk penelitian dan pengembangan Ilmu, Teknologi dan Seni. Rangkaian kegiatan ini, kalau berlangsung berkali-kali, berkembang menjadi spiral menaik curiosity-inquiry-discovery. Ilmu, teknologi, seni, industri, sosial, ekonomi dan politik dalam negara-bangsa Republik Indonesia semakin maju dan berkembang. Pengembangan Ilmu, teknologi, seni dan industri meningkatkan taraf hidup masyarakat; sebaliknya, peningkatan taraf hidup masyarakat meningkatkan kemampuan Ilmu, Teknologi, Seni dan Industri.
Membangun Puluhan Kota Industri.
Dalam upaya pengembangan ilmu, teknologi, seni dan industri, kita perlu membangun puluhan kota industri dan kota seni di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya di atas lahan tidak subur, yang penduduknya masih sedikit, misalnya di atas lahan gambut di Kalimantan dan Sumatera. Pembangunan kota industri dan kota seni disesuaikan dengan sumberdaya yang tersedia, misalnya dimulai dengan memproduksi pembangkit listrik tenaga gambut untuk digunakan di lahan gambut; dan masyarakat dibuatkan alat pembuat briket dengan bahan baku gambut, dan kemudian briket gambut tersebut dibeli oleh perusahaan pembangkit listrik tenaga gambut. Pemerintah Pusat hendaknya memusatkan perhatiannya di kota-kota ini, dalam upaya meningkatkan kemampuan ilmu, teknologi, seni dan industri. Puluhan kota baru ini, kota-kota teknologi, seni dan industri, tersebar di berbagai wilayah, terutama di wilayah yang tidak subur dan belum maju. Kota-kota industri ini akan kita jadikan tempat untuk mengubah masyarakat, agar lebih cepat menjadi produsen dengan mengembangkan teknologi dengan pola pikir dan perilaku rasional berorientasi prestasi. Kehadiran kota-kota industri menempati posisi strategis, dalam upaya memajukan ilmu, teknologi, dan industri; memajukan pola pikir dan perilaku masyarakat; memperluas lapangan kerja yang akan menampung banyak tenaga kerja terdidik. Di kota-kota industri ini, kita bergotongroyong mengembangkan teknologi untuk meningkatkan kemampuan industri; disini kita dapat mengurangi ketertinggalan kita dari negara-negara maju, hingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita dapat mengimbangi mereka di bidang ilmu, teknologi, dan industri. Kota-kota industri ini dijadikan pusat pendidikan, pelatihan dan pengembangan ilmu dan teknologi, yang akan menjadi salah satu lokomotif penggerak kemajuan Indonesia.
Membangun Puluhan Kota Seni dan Film.
Indonesia juga perlu membangun kota-kota seni dan perfilman, untuk mendukung perkembangan seni di tengah-tengah masyarakat; tempat para seniman dan warga perfilman belajar, kerja dan berproduksi; tempat dimana seniman profesional bisa berkembang dan hidup layak; tempat dimana sebagian penganggur yang berminat jadi seniman bisa mendapat pekerjaan; dan seterusnya. Kehidupan yang seserasi dan selaras membutuhkan kemajuan ilmu dan teknologi serta seni secara seimbang; dan untuk itu ilmu, teknologi, seni dan industri perlu dikembangkan bersama-sama; dan perkembangan ini mendukung kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan yang serasi dan selaras. Kota industri dan kota seni akan berperan dalam proses pemerataan distribusi pnduduk Indonesia, sekaligus untuk mengurangi kepadataan penduduk di pulau Jawa, dan dengan demikian pulau Jawa dapat memproduksi banyak beras, yang sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di luar Jawa. Perkembangan dunia seni juga akan membuka banyak lapangan kerja, dan dengan demikian akan mengurangi pengangguran. Kota-kota seni ini akan menjadi halaman depan Indonesia dalam interaksi antar bangsa dan antar peradaban di bidang seni; dan kita punya kesempatan luas untuk memperkenalkan kesenian Indonesia kepada bangsa-bangsa lain; kemajuan seni akan menjadi daya tarik menghadirkan jutaan wisatawan mancanegara ke Indonesia; dan kemajuan ini juga akan menyediakan banyak kesempatan kerja bagi para seniman, dan juga para pengrajin yang memproduksi peralatan seni.
Kesenian dari seluruh Indonesia mendapat kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang di kota-kota seni ini; dan kesenian kita yang beranekaragam akan menjadi salah satu modal utama untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Di kota-kota seni didirikan berbagai sekolah seni, mulai dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi; calon pelajar dan mahasiswa seni datang dari seluruh penjuru Nusantara; mereka belajar di sini dan kemudian sebagian kembali ke daerahnya masing-masing untuk membangun kesenian di sana. Di sini ditampilkan berbagai pertunjukan seni; menumbuh-kembangkan rasa keindahan seni di kalangan masyarakat luas; mengurangi rasa kebencian dan permusuhan yang sekarang banyak menghinggapi warga masyarakat. Kehidupan bersama ini perlu di buat indah dan menyenangkan, serasi dan selaras. Kehadiran kota-kota seni ini menempati posisi strategis, dalam upaya memajukan kesenian dari seluruh Nusantara; memajukan apresiasi terhadap kesenian kita sendiri; memperluas lapangan kerja untuk mempekerjakan banyak seniman; memperkuat posisi kesenian Indonesia di pasar global; dan meningkatkan kebanggaan nasional Indonesia. Nasionalisme dan patriotisme di bidang seni perlu diperkuat, seperti di awal kemerdekaan Indonesia. Satu atau dua dari antara kota seni ini, juga sekaligus dijadikan lokasi pembuatan film yang disewakan kepada perusaan film dalam negeri ataupun mancanegara; di sini disiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam proses pembuatan film; dan karena pembuatan film membutuhkan lahan luas, kota seni khusus ini bisa dibangun di atas lahan luas, misalnya seluas 500 km2.
Menjalankan UUD 1945.
Kota-kota industri dan seni ini langsung dikelola oleh Pemerintah Pusat, hingga dapat bergerak cepat tanpa hambatan dari pihak manapun; dan dengan demikian dapat dengan cepat memanfaatkan dan mengembangkan ilmu, teknologi, seni dan industri untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Dasar hukum pendirian kota-kota ini adalah UUD 1945, khususnya:
Pasal 27 Ayat (2) yang menyatakan: Tiap-tiap warganegara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Pasal 28C Ayat (1) yang menyatakan: Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
Pasal 31 Ayat (5) yang menyatakan: Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Pasal 33 Ayat (3), yang menyatakan: Bumi dan air dan kekayaaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat;
Universitas Nusantara sebagai produk Nusantara Centre pastilah memproduksi warganegara unggul yang ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan abadi agar semesta bagaikan syorga.
Dus, membangun universitas nusantara adalah menyiapkan manusia berkeadilan sosial bagi seluruh warga semesta.
Mengapa? Sebab, sejarah pasca kemerdekaan kita adalah sejarah pertempuran antara "kebudayaan-pendidikan melawan penipuan-kejahiliyahan" yang tiada akhir. Maka, menguatkan universitas adalah mensolidkan pasukan pemenangan di masa kini dan mendatang
CERPEN (Cerita Pendek) SABTU
Aku baru saja dikabari oleh kawanku. Ia bersama beberapa temannya membuat seminar tentang Indonesia Bersih Sampah. Tujuannya, mendidik anak-anak, khususnya para pelajar di Indonesia untuk "sadar sampah". Artinya, dimanapun anak-anak itu berada, mereka nantinya dapat menjadi orang yang peduli pada sampah. Tak boleh ada sampah yang dibiarkan membusuk dan mencemari lingkungan.
Acara ini tentu saja sesuatu yang bagus dan sangat-sangat bermanfaat; jauh lebih bagus dari program balap mobil listrik di Jakarta yang digagas oleh Gubernur Ibukota, program yang telah juga mendapat utangan dari Bank Provinsi dengan nilai besar itu. Hanya saja, aku mendengar dari kawan ku ini, bahwa untuk acara yang bisa meghadirkan dan melibatkan siswa sekolah sampai 800 orang lebih itu, yang dampaknya sangat positif bagi generasi muda.. tak mendapat dukungan finansial dari institusi yang seharusnya mendorong dan mengupayakan acara-acara seperti ini bisa terjadi sebagai kegiatan Corporate Social Responsiblity (CSR) tentu saja, ya sebagai Respon Sosial para pemimpin ataupun pengusaha yang telah mendapat banyak keuntungan dari rakyat.
Bahkan, yang lebih miris adalah, dari instansi negara yang terkait dengan program seperti ini, pun berkata "kami tak ada uang".. "jadi kemana uang rakyat itu?" jangan tanya jawaban jujurnya, karena bahkan rumput yang bergoyang pun (tempat bertanya musisi kondang semacam Ebiet G Ade) tak akan tahu jawabnya
Aku meyimak dengan khidmat kisah teman ku itu. Dan, karena aku bukan politisi apalagi staff menteri, tentu aku hanya bisa menuliskan kisah ini sebagai curahan perasaan bingung ku pada mereka yang menyebut diri "pemimpin" juga "pengusaha"... untuk apa mereka duduk disinggasana? apa manfaatnya mereka itu menjadi tuan jika punya mata tapi tak melihat, punya telinga tapi tak mau mendengar.. ?
Akhirnya ku putuskan menjadikan kisah dari temanku itu sebagai lagu, supaya jika nanti aku duduk di singgasana itu, aku tahu bagaimana caranya memperlakukan tahta.. duduk namun tetap sedia menunduk.. untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyatlah seharusnya para pemimpin kerja sibuk.
berserak, bertebaran tak punya makna
dari kertas bekas sampai beling kaca
semua terlihat jelas didepan mata
Sampah dibuang dan dibiarkan membusuk
di sungai menjadi limbah tak terkeruk
diltanah lapang menggunung tak lapuk
dan setiap makluk didekatnya jadi mabuk
Hujan datang, kali pun banjir
airnya meluap dari hulu ke hilir
kota dan desa terendam air tak mengalir
jika sudah begini pemimpin pandir saling sindir
Indonesia mustinya dipimpin oleh ksatria
yang kerja dan mengabdi tulus pada bangsa dan negara
bukan memimpin yang duduk dalam singgasana jumawa
yang tak pernah peduli pada rakyat yang menderita
Sampah itu adalah kamu yang kerap berpikir busuk
sampah itu adalah kamu yang kerap berlaku terkutuk
Badui, 13 November 2021
Yang tetap itu perubahan. Dan, dalam perubahan itu yang inti adalah prosesnya. Tidak ada yang abadi dan menetap. Semua soal waktu. Bisa saja hari ini kita kalah, suatu saat menang; sangat mungkin hari ini kita miskin, besoknya kaya. Pasti semua bergiliran dan berpasangan. Karenanya jangan terlalu putus asa dan tidak perlu terlalu sedih. Begitu kita telah bekerja keras, maka pasrahkanlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berserahdiri kepada-Nya. Terus bekerja dan berdoa. Sampai ajal tiba. Di kampus nusantara kita akan ditradisikan untuk menyemesta agar melampaui ekonometrika dan pengaruh-pengaruh negatif lainnya.
Pilpres liberal banyak memakan korban. Ribuan terkapar mati mubazir.
Rebutan sepiring nasi. Sementara segelintir tuan rakus tertawa girang. Sebab uang dan kursinya berlipat garang. Lalu, kekuasaan menjadi tuhan, pengkhianatan menjadi panglima setan dan kesetiaan menjadi murahan. Manusia berbondong-bondong bersumpah dan beriman pada keuangan yang maha esa.
Di universitas nusantara, praktik demokrasi liberal dikutuk dan ditinggalkan. Dimasukan ke musium. Tak dijalankan. Sebab kita punya politik pancasila yang perikeadilan sosial bagi seluruh penghuninya. Sistem majlis yang keterwakilan (golongan dan daerah) dan keterpilihan (parpol). Berkoperasi. Resiprokal kritis alam semesta, Tuhan, manusia
Seharian ini kampungku hujan deras. Bulir hujan terasa lebih besar. Gemuruh mendekap atap. Berdentang getarkan genderang kuping. Tetapi, sujud subuh terasa lebih khidmat. Andai saja ini sujud terakhirku, aku bahagia.
Ya. Aku sudah tak berdaya. Tak ingin lagi menikmati hidup pemberian Tuhan yang semaunya. Kini, aku terus hanya bisa berdoa dan mendzikirkan namanya. Orang-orang baik dan kekasih hati yang tak tahu diri. Tak sudi berbagi. Padahal, betapa indah jika manusia saling fokus bekerja, berdoa dan gotong royong merealisasikan Indonesia Raya.
Tuan-puan yth. Tugas negara dan ilmuwan postkolonial itu sangat menantang: mengembalikan peran Universitas sebagai pemandu dan penuntun peradaban manusia, bukannya sebagai pembebek (pengekor) apa saja yang telah dilakukan oleh dunia fundamentalisme-terorisme pasar neoliberal.
Di negara postkolonial, fungsi utama Universitas adalah berternak kejeniusan yang melahirkan perilaku, nilai dan norma sesuai konstitusi guna mewujudkan totalitas manusia yang melawan sehingga merdeka, mandiri, modern dan martabatif: menjadi agensi kemerdekaan, kebersatuan, keberdaulatan, kesejahteraan, keadilan dan kesederajatan atau kemerataan bersendi kegoyong-royongan. Itulah roadmap Universitas Nusantara.
Jika tuan-puan gagal dalam peran itu, gagal pula negara ini menunaikan janji proklamasi, gagal total sebagai manusia pancasila. Hidup kita seperti melata: jejaknya tak tercium sejarah, adanya tiada.
Tuan-puan yth. Maka, mari naikkan level permainan. Syukur-syukur mampu sekelas Barca di sepakbola or Chicago Bull di basket. Pikirkan dan tuliskan cara mengelola negara dengan jenius dan sampaikan ke pihak-pihak terkait. Realisasikan cita-cita besar negara pancasila. Cari segala cara yang halal, pas dan gol.
Semoga kita tak menari-nari di musik yang ditabuh orang lain: para begundal kolonial dan proxynya. Dari niat, angan, ucapan, tulisan, tindakan dan realisasi nusantara kita baktikan. Aamiin.(*)
Setiap hari ada ribuan keajaiban terjadi di dunia ini. Mukjizat tak pernah habis. Hal tak mungkin menjadi mungkin selalu ada. Peristiwa spektakuler sering hadir. Siapa tahu kali ini terjadi untuk kita, demi berdirinya kampus nusantara. Jangan buang harapan, jangan kurangi doa, jangan berhenti bekerja. Sebab ketiganya itu inti hidup di dunia. Semoga. Salam sehat
Tak ada pilihan lain kecuali kita harus mengerjakan lebih dari apa yang dipikirkan orang lain dan percayalah, pada suatu saat akan dibayar lebih banyak dari apa yang sudah kita kerjakan. Di kampus nusantara, kita akan bekerja dan berdoa melampaui pikiran dan perkiraan orang lain. Itulah metoda menemukan dan mengembangkan potensi-potensi yang masih tersembunyi di kolong jagad raya dan semesta.
